IN MEMORIAM: AANG BAIHAQI
12 Juli 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Hari kamis malam saat tubuhku mulai capek dan berniat untuk istirahat, sebuah SMS masuk ke HP-ku. Kulihat dari Murdianto, dosen Insuri Ponorogo. Isinya membuatku tersentak. “aang kbr-nya kritis.. sekarang di rs sakinah mojokerto..mhn doa kesembuhan dr shbt2”. Aku tersentak. Gerangan sakit apa sehingga ia kritis? Kutanyakan ke Murdianto, dan dia jawab bahwa sakit jantung.
Sabtu siang, saat aku sedang editing tulisan, kembali Murdianto mengirimkan SMS. Kali ini kabar duka. ”Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah kembali kehadirat Allah, kawan kita terkasih: Aang Baihaqi, Pengasuh ponpes Al-Amin Soko Mojokerto”. Aku diam sejenak. Kuambil air wudhu. Kubacakan doa buat sahabat Aang yang telah mendahului ke hadirat-Nya. Semoga amalnya diterima oleh Allah, diampuni segala dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan. Amin.
* * *
Aku menulis catatan ini karena memang memiliki kenangan khusus dengan Aang Baihaqi, seorang kiai muda yang cerdas. Dulu, ketika aku di Tulungagung, Aang adalah sosok yang kukagumi. Di antara mahasiswa IAIN Tulungagung pada pertengahan tahun 1990-an, ia termasuk yang paling luas bacaannya. Di saat mahasiswa lain belum memiliki minat baca, bacaan Aang sudah jauh meninggalkan kawan-kawannya. Aku ingat betul bagaimana ia ke mana-mana menenteng buku yang saat itu sedang populer, semacam buku Asghar Ali Engineer, Abdullahi Ahmad an-Naim, Hassan Hanafi, dan banyak buku populer lainnya. Kemampuan kognitifnya semakin terlihat kuat karena ia juga memiliki kemampuan membaca kitab klasik dengan baik. Selain karena pernah mondok lama, ia juga keluarga kiai. Jadi lengkap sudah.
Sebagaimana anak muda pada umumnya, ia juga suka dipuji. Kadang yang membuat geli, itu dilakukan karena memiliki agenda khusus; memikat cewek. Aku kira itu wajar, dan dialami oleh semua manusia. Apalagi dia memang cakep, pinter, dan jago kalau bicara. Pernah dalam suatu diskusi, dia membawa setumpuk buku-bukunya. Setiap dia bicara, dia lalu menunjukkan ke peserta diskusi buku yang membahasnya. Hal ini, tentu saja, membuat jengkel kawan-kawan. Dengan iseng, beberapa kawan kemudian mengambil buku tersebut dan menyembunyikannya, sehingga setelah bicara dan berniat menunjukkan buku yang dimaksud, bukunya tidak ada. Maka, sumpah serapahnya pun keluar. Dan kawan-kawan yang mengerjainya pun tertawa terbahak-bahak.
Aang memang cerdas. Aku kira kawan-kawan yang akrab dengannya mengetahuinya. Misalnya, dia dulu bahasa Inggrisnya amburadul. Tahu kelemahannya, dia kursus beberapa bulan di Pare. Hasilnya, luar biasa. Saat ke Tulungagung, dia cas cis cus berbahasa Inggris. Tidak hanya kepada kawan-kawannya yang kebanyakan hanya mampu bengong saja melihat kemajuan pesatnya, tetapi juga kepada dosen-dosen bahasa Inggris.
Soal namanya yang aneh, ”Aang”, aku pernah bertanya kepadanya. Dengan kelakar dia menjawab bahwa nama itu memang tidak umum. Tetapi itu ternyata kesalahan tulis gurunya saat TK. Ketika itu dia ditanya, namanya Ahmad Baihaqi. Tetapi karena masih kecil dan belum seberapa ”teteh”, gurunya mendengar kata ”Aang”. Maka tertulislah di absen—kemudian ijasah—nama Aang, Begitulah, karena menurutnya lebih menarik atau entah karena tidak ada upaya revisi, nama itu yang kemudian menjadi nama resminya.
Semenjak lulus kuliah, aku beberapa kali bertemu dengannya. Di forum Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur, kami sama-sama sebagai anggota. Seingatku, di Malang, Surabaya, dan Jombang kita bersama. Tawanya yang khas, dan ceritanya tentang sosial-politik-keagamaan yang dilakoninya seolah mengukuhkan eksistensi dirinya. Dia nampaknya lebih enjoy di politik.
Rupanya prediksiku keliru. Kakak iparnya yang pernah bertemu denganku bilang kalau Aang sekarang konsen mengurusi pesantren. ”Baguslah”, kataku. Dan aku membayangkan, dia akan menjadi kiai besar yang cukup disegani, kecuali bagi teman-teman sekolahnya. Memang, orang yang berwibawa biasanya akan ’habis’ kewibawaannya dihadapan teman-temannya. Dan itu nampaknya juga terjadi pada Aang. Saat bertemu denganku di Jombang, dia bersama santrinya yang begitu tawadhu’. Sementara aku menggojlok habis-habisan sehingga seolah meruntuhkan kewibawaannya.
Berkaitan dengan ini, ada cukup banyak kenangan yang ingin aku tulis. Semuanya menarik dan mengingatkanku akan keragaman pengalaman manusia. Tetapi satu hal yang kuingat, sekitar setahun lalu dia menelponku. Kali ini nadanya beda sama sekali. Jika dulu dia agak ’liar’ dan lepas kalau berbicara denganku, kali ini benar-benar berbeda. Suaranya lembut, tenang, dan—ini yang membuatku terkejut—dia berbicara ”kromo inggil” kepadaku. Aku juga heran, tetapi kuanggap sebagai bagian dari kematangan jati dirinya sebagai seorang kiai muda.
Setelah itu, tidak ada hubungan lagi di antara kami. Hingga dua hari lalu kabar kritisnya sampai. Dan hari ini, ia telah menghadap keharibaan-Nya. Selamat jalan sahabat. Namamu kan selalu kukenang dalam hidupku. Damailah di sisi-Nya.
Oleh : Ngainun Naim
